Hari ini kami sekelasan ziarah ke makamnya Reja.
Udah lama banget gak ke sana. Terakhir kali pas sebelum puasa.
Kami berencana ziarah karena tanggal 27 Desember besok, ia harusnya ulang tahun yang ke 13
Kalau diinget-inget ya,
Perbedaan antara ulang tahunnya yang sekarang dan yang kemarin beda sekali.
Sungguh.
Benar-benar unexpected.
2 tahun lalu.
27 Desember 2007
Reja ngundang kami sekelasan ke Hotel Grand Victoria.
Woow, baru tau nama tempatnya aja udah takjub banget. Soalnya gak pernah tuh ada yang ngerayain ulang tahun di tempat mewah kayak gitu.
Di sana, seru yang tak bisa dibayangkan.
Makan steak, beuuhh, mantapnya.
Mana ada kejadiaan lucu pas makannya Jeki gak dianter. Jadi yang lainnya pada makan, dia cuman ngeliatin. Eh, pas yang lainnya udah selesai, dia malah baru makan. Ckckckck.
Udah gitu, Reja ngundang pesulap.
Namanya Mr.Joker .
Wah, mantap banget tuh. Taktik sulapnya mantap-mantap.
Bener-bener triknya gak keliatan sama sekali.
Bahkan yang terakhir, bener-bener kami dihipnotis. Bayangkan, semua kartu yang ada cuman punya pola yang satu, Jack hati (contoh, aku lupa apa kartunya).
Pokoknya kami bener-bener have fun di sana.
Gak ada pikiran macem-macem.
Dan, yah, waktu itu aku masih bisa lihat ia tersenyum.
Lebar dan bahagia, tanpa ada beban yang harus di tanggung.
Dan taukah kalian,
ternyata itu senyuman terakhirnya pas hari ia ulang tahun.
27 Desember 2008
Reja udah sakit.
Udah mulai parah.
Dia udah di Dirgahayu, di ruang ICU.
Waktu itu, hanya segelintir dari kami saja yang ngerayain ulang tahunmu.
Hanya ada aku, ola, ana, yurika, izzan, indra, wisnu.
Sekitar 1/4 dari total jumlah kami.
Kami datang, membawa hadiah untukmu.
Hadiah yang dibungkus dengan warna-warni kertas kado dan dililit dengan indahnya oleh pita-pita.
Tapi itu tak sebanding dengan apa yang tengah kau hadapi,kawanku tersayang.
Kami melihatmu,
terbaring dengan lemahnya di kasur berseprai putih
dengan selang-selang infus yang dicucukkan di tubuhmu
dan oh, betapa kurusnya dirimu kawan
taukah engkau, walau diluar aku tersenyum dan dengan riangnya mengucapkan selamat untukmu,
sebenernya aku hanya mencoba untuk tersenyum.
I'm crying inside.
Bagaimana mungkin kau menghadapi rasa sakit itu seorang diri?
Kemudian, hari ini
26 Desember 2009
Maaf sobat, kami bisa merayakannya hari ini, bukan besok.
Tak apa-apakan jika kami lebih cepat satu hari?
Jadi, tadi sepulang sekolah kami langsung ziarah ke makam.
Naik satu angkot, dempet-dempetan di situ. Yang penting cukup.
Kemudian kami sampai ke sana.
Dan langsung naik mencari makammu, kawanku.
Di atas, tepat di bawah pohon. Oh, betapa rindangnya tempat peristirahatan terakhirmu.
Langsung kami baca yasin, dengan domas yang memimpin.
Suasana di sana begitu khusyuk.
Yang terdengar hanyalah suara angin dan lantunan ayat-ayat yang meluncur dari mulut kami.
Kemudian kami mulai membasahi makammu (apa bahasa yang tepat?) secara bergantian,
menaburkan bunga-bunga yang sudah tersedia,
oh ya, kawan, ada mamamu tercinta di sana. Ia ikut menemani kami.
Beliau bahkan jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk ziarah ke makammu, merayakan ulang tahunmu.
Kemudian kami pulang ke rumah masing-masing.
Dan di sinilah aku,
termenung atas apa yang sudah dan baru saja terjadi.
Betapa cepatnya waktu berlalu,
dengan membawa sebuah perubahan,
entah berdampak kecil, atau besar layaknya ini.
Sekali kita melangkah ke depan,
dan iseng untuk melihat kembali ke belakang,
semua apa yang baru terjadi, has gone.
oiya, sampe lupa intinya,
Selamat Ulang Tahun, kawan
Semoga kamu baik-baik saja di sana.
I wish all the best for you.
About Me
The Label
- catatan kecil (8)
- saat melamun (13)
What time is it?
Chit Chat~
Feedjit
Twitter Updates
Sabtu, 26 Desember 2009
Happy Birthday, vella :)
Selasa, 22 Desember 2009
Happy Mother's Day :)
Saking stress sama ujian,
aku sampai lupa, kalo hari ini,
MOTHER'S DAY
Hmm...sebenernya,
Hari Ibu itu apaan sih?
Mari kita liat apa pendapat om wiki,
Hari Ibu adalah hari peringatan/ perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anaknya, maupun lingkungan sosialnya.
Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas-tugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.
Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.
Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong dalam Hari Ibu atau Mother’s DayMei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day (dalam bahasa Inggris) diperingati setiap bulan 8 Maret. (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan ke dua bulan
Hoo, ternyata kayak gitu tho artinyaa..
wah, ternyata aku salah besar dong.
Dari tadi yang ngerjain pekerjaan rumah malah mamaku,
aku malah gak ada ngapa-ngapain
Maaf maaf banget maa !
Teteh bener-bener lupa !
Sorry sorry sorry sorry
Ma, berhubung aku bener bener lupa,
dan aku belum nyiapin hadiah apapun,
Kalo cuman serangkaian kata-kata, cukupkah itu sebagai balas budiku atas semua kebaikanmu ?
Terima kasih ma.
Terima kasih atas semua rasa sakit dan capek, serta peluh keringatmu dalam masa-masa ngelahirin diriku ke dunia ini.
Makasih ma
Terima kasih.
Terima kasih atas semua didikan yang kamu berikan.
Dari awal yang masih jadi anak ingusan yang gak tau apa-apa.
Sampai sekarang yang punya berbagai ilmu.
Itu semua gak bakal terjadi kalo gak ada kamu, ma.
Makasih.
Terima kasih.
Atas semua kasih sayang dan harapan yang kau berikan.
Bahkan di saat diriku sendiri sudah tak percaya sama kemampuan sendiri,
kamu malah ngedukung dan terus ngedukung, sambil bilang,
"Kamu anak mama. Mama tau kamu bisa. Mana teteh yang pintar, rendah hati, dan yang mama banggakan?"
Makasih ma.
Makasih.
Atas semua yang sudah kau berikan.
Betapa begonya dulu yang sempet benci banget sama perlakuanmu.
Betapa begonya dulu yang sempet munyak banget sama dirimu.
Betapa begonya dulu yang setiap hari selalu aja bertengkar sama dirimu.
Dan sekarang, hasilnya,
aku bisa jadi kayak gini. Jadi Yusrina Nabila Chairani.
Makasih ma.
Maaf atas semua kesalahan yang sering kubuat. Yang sering melukai hati sucimu. Maaf ma.
Maaaf kalau kadang-kadang aku gak bisa jadi apa yang kau harapkan, tapi aku janji ma. Aku bahkan terus berusaha sampai bisa menyenangkan hatimu. Pasti.
Maaf juga kalau selama ini agak tertutup sama mama. Bukan karena mama tak bisa diandalkan, tidak ma! Hanya saja aku terlalau malu untuk mengatakannya. Tapi aku janji, suatu saat aku akan tumpahkan seluruh tentang diriku.
Nah ma,
HAPPY MOTHER'S DAY, mamaku tersayang :)

P.S : Aku tau kata-kata gak bakal cukup sebagai balas budi.
Oke deh, saat libur nanti, teteh bantuin mama nyuci piring dan nyapu. Oke ?
READ MORE......
Sabtu, 12 Desember 2009
I do miss that time
Habis baca postingannya Hani Nainggolan :P
Dan aku sadar,
AKU PINGIN BALIK KE MASA KECILKU.
Aku kangen untuk dimanja, dibacain cerita sebelum tidur.
Dan ketika aku udah mau tidur, mereka bakal berdiri, nepuk kepalaku dengan lembut.Dan mencium keningku.
Aku kangen banget untuk diperhatiin.
Kalau aku mau ulangan, mama/papaku bakalan cariin buku-buku yang kuperlukan.
Kemudian mengajariku sampai aku bisa.
Bahkan pernah mereka mengajariku sampai lewat tengah malam, hanya untuk memastikan bahwa aku bisa dan mengerti
Dan aku masih ingat,
Kalau aku sakit, mereka bakal bergantian jagain aku.
Nungguin aku di samping tempat tidur.
Dan selalu mengecek suhu tubuhku.
Ooh.
Aku benar-benar ingin balik lagi ke masa itu.
Masa di mana aku masih membutuhkan, bukan dibutuhkan.
Masa di mana aku masih gak bisa bikin keputusan apapun,
Di mana aku hanya bisa menerima apapun.
And yeah,
I miss that time so badly
Tapi kita semua tau,
Semua orang bakal tumbuh dan berkembang.
Dari yang anak kecil, masih ompong, masih gak bisa apa-apa.
Sampai jadi orang dewasa yang gagah, yang dapat diandalkan.
Dan jujur, aku pingin cepet tumbuh gede.
Jadi dewasa.
Aku pingin liat dunia tempat aku tinggal dengan sudut pandang yang berbeda.
Bukan dengan sudut pandang anak kecil yang nganggep semua itu indah,
Tapi pikiran orang dewasa yang selalu di penuhi oleh berbagai masalah yang harus mereka selesaikan.
Aku pingin nyoba kayak gitu.
Tapi emang gak bisa dipungkiri,
Munafik banget kalo aku bilang aku pingin tumbuh.
Sisi lain dari hatiku malah bilang,
“Aku pingin tetap seperti ini. Hanya seperti ini.”
Aku pingin masih tetep bermain dengan senangnya,
Tanpa perlu mikirin hal-hal orang dewasa, kayak bayar pajak lah, perbedaan pendapat lah.
Aku pingin jalanin hidup tanpa perlu ada masalah.
Itulah aku.
Satu sisi ingin cepet gede.
Tapi sisi lain malah pingin tetep kayak gini aja.
Hehhh...
Emang bener,
Hidup ini aneh.
Ahh,, udahlah
Ngapain juga aku mikirin hal ribet kayak gini?
Yang penting sekarang aku masih diberi waktu untuk hidup, thanks God.
Yang penting aku tau, walau aku gak bisa balik ke masa kecil, kasih sayang orang tuaku gak bakal berubah walau aku gede nanti. I’m sure.
Selasa, 08 Desember 2009
Dad, you're the best :)
Biasa,
terjebak dalam kebosanan.
Tiba-tiba, aku nemuin post kayak gini.
dan aku setuju dengan isinya.
Pa, meski aku jarang bertemu denganmu, ya,
Kamu selalu berangkat di pagi hari, dan kembali di malam ketika kami semua sudah terlelap.
Tapi aku tau, itu semua kamu lakukan untuk ku.
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingtkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu..... Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya....
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata:
"Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik.... Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Papa telah menyelesaikan tugasnya....
Papa, Ayah, atau Bapak kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis... Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa
"KAMU BISA" dalam segala hal..
Hasta La Vista !
(Iseng buka-buka draft postingan dan tiba-tiba nemu posting ini dan merasa heran, knapa ini gak di publish? wong ini udah cerita lama juga)
Aku akan selalu menemani di saat kamu sedih.
Berada di sampingmu.
Menampung segala luka hatimu.
Dan mencoba untuk membuatmu untuk tersenyum kembali.
Aku akan selalu mendukungmu setiap saat.
Menyemangatimu.
Dan terus berdoa semoga kamu berhasil.
Selalu ada di sampingmu.
Di sisimu. Di hatimu.
Bahkan walau kau tak minta, aku akan selalu ada.
Tapi kamu tak pernah menunjukkan perasaanmu.
Menunjukkan hatimu.
Bayangkan.
3 tahun aku terus bertanya-tanya.
Bertanya dan terus bertanya.
Tanpa tau apa jawaban yang benar
3 tahun aku terus menunggu.
Menunggu dan terus menunggu.
Tanpa tau apakah yang kutunggu itu akan datang atau tidak.
Selama 3 tahun ini,
Aku terus berharap.
Berharap dan terus berharap.
Tanpa tau apa itu akan terjadi atau tidak.
Dan ternyata,
Selama 3 tahun ini,
Aku hanya menbuang-buang waktuku hanya untuk sesuatu yang tak pasti.
Sangat tak penting dan tak berarti.
Bertanya akan hal yang tak akan pernah ada jawabnya
Menunggu akan hal yang tak akan pernah datang
Dan berhaparap untuk sebuah harapan kosong
Ya ampun
Betapa begonya aku.
Betapa tololnya aku
Betapa...
Betapa...
Betapa bodohnya aku,
Yang tak pernah menyadari akan hal itu.
***************************************************************************
Setiap hari, selama 3 tahun,
Aku gak pernah konsen kalau mau belajar.
Setiap aku mau belajar,
Tiba-tiba aja ada sms darimu.
Dan aku tak pernah bisa membuat diriku untuk tidak membalasnya.
Setiap malam, selama 3 tahun,
Aku selalu kena insom. Selalu tidur jam 1 malam.
Kamu tau kenapa?
Gara-gara kamu.
Aku nungguin sms balesan darimu. Menunggu dan terus menunggu.
Dan setiap detiknya, selama 3 tahun,
Kamu buat aku kebingungan. Gak jelas.
Terombambing. Tersesat.
Sungguh.
Aku merasa sangat sangat idiot.
Bisa-bisanya aku dibodohin seperti itu.
Sudah cukup semua ini.
Semua omong kosong yang selama ini kulakukan.
Jadi,
Dengan ini aku putuskan.
Aku ingin bebas,
Dari rasa ini.
Dari sakit ini.
Dan dari dirimu.
Selama ini aku hanya terombang ambing di tengah ketidakpastian
Tersesat di kacaunya hati
Dan terjepit di tengah harapan kosong.
Dan taukah, ternyata yang harus kulakukan agar bisa keluar adalah,
Melangkah keluar. dan melupakan semuanya.
Terima kasih...
Terima kasih karena telah mengisi relung hati ini.
Membawa warna di dalamnya.
Membawa kebahagiaan dan keceriaan.
Terima kasih...
Terima kasih karena sudah mengajarkan perasaan ini.
Perasaan yang di satu sisi menggelitik,
Tapi juga menyakitkan.
Terima kasih atas segala kenangan yang kau berikan untukku.
Dan Selamat Tinggal
Selasa, 01 Desember 2009
Es tut mir leid, Mutter :)
Hehh (menghembuskan nafas)
Hari ini seperti biasa,
Sekolah, belajar
Pulang, belajar.
Kehidupan yang monoton.
Tadi, ia menyuruhku untuk belajar.
Astaga! Apakah ia tak melihat seberapa kerasnya aku berusaha untuk menyenangkan hatinya?
Tak lihatkah ia aku mengerjakan tugas, mencari bahan-bahannya siang dan malam hanya untuk membuka hatinya, menyentuhnya dan membahagiakannya?
Maafkanlah jika hasilnya tak sebagus yang ia kira,
Tapi setidaknya sudah ku kerahkan semua kemampuanku,
Semua keluh, peluh dan rasa capek ini kupersembahkan semua hanya untuknya
Sudah berulang kali kuberitahukan yang sebenarnya,
Berulang kali ku berjanji untuk selalu menjadi yang terbaik
Tapi ia tak pernah memberi kesempatan,
Bukankah semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?
Lalu, kemudian, ia berulang kali memintaku menjadi seorang dokter,
Bukan, bukan meminta,
Tapi MEMAKSA.
Bukannya aku tak ingin menjadi seorang dokter, yang dengan mulianya membantu menyembuhkan orang-orang yang sedang dilanda penyakit, tidak, aku ingin sekali.
Hanya saja, aku mempunyai cita-cita lain,
Aku ingin suatu hari nanti, aku bisa menjadi seorang penulis buku terkenal.
Kucoba beritahu cita-cita itu,
Bukannya mendukung, ia malah mencercaku dengan omelannya
Memarahiku, seakan-akan menjadi seorang penulis adalah perbuatan yang tabu!
Sungguh,
Rasa kesal di hati ini sudah tak bisa dibendung
Monster ini selalu mencoba untuk keluar, memuntahkan segalanya
Sudah kucoba untuk mengekangnya, memendamnya dalam hati
Tapi tak bisa dielakkkan, rasa sakit dan kesal ini semakin menjadi-jadi.
Itulah apa yang kurasakan tentangmu, ma.
Kesedihan,kekecewaan, kekesalan ini,
Maafkan aku ma,
Itu semua untukmu.
Tapi itu dulu.
Tapi itu semua berubah, setelah apa yang barusan terjadi.
Hari ini, pulang seperti biasa.
Aku disuruh untuk belajar seperti biasa, tapi aku malas.
Jadi aku ijin saja untuk bermain internet sebentar saja. Ia mengijinkan.
Kemudian kulihatlah ketikkan itu, tulisan yang kubuat tentang teman-temanku.
Iseng saja kuperlihatkan kepadanya, walau ku tahu ia pasti hanya membacanya sekilas,
Lalu menghinanya, seperti biasa,
Tapi tadi tidak.
Kulihat ia membacanya dengan seksama.
Tubuhnya bergetar, matanya berkaca-kaca.
Matanya menelusuri setiap kata demi kata, seolah-olah tak ingin terlewatkan satupun.
Kemudian ia berkata dengan suara yang bergetar,
“Ini indah sekali, teh”
Terpana aku mendengarnya,
Terkejut,
Tak pernah kusangka ia akan berkata seperti itu.
Jadi aku hanya bisa diam, menatap kedalam matanya, mencari-mencari kebenaran di matanya.
Dan iya,
Selangsa kebenaran itu ada.
Kemudian ia melanjutkan,
“Kamu berbakat teh. Sungguh. Mama tak pernah menyangkanya. Mama bangga sekali padamu”.
Kemudian ia tersenyum. Senyum yang sangat tulus.
Terdiam aku menatap dirinya.
Sungguh. Jutaan pertanyaan berkelebat di benakku.
Apakah itu hanya sekedar pujian basa basi?
Apakah itu hanya omongan yang memang seharusnya diucapkan oleh seorang ibu?
Apakah?
Apakah?
Apakah?
Atau,
Dirinya memang mengatakan yang sebenarnya?
Dirinya memang bangga terhadap hasil karyaku,
Terhadap diriku?
Kemudian ia melanjutkan,
“Hahaha. Kamu pasti kaget teh. Mama juga kaget kamu bisa bikin kayak gini. Mama rasa, kalau kamu memang pingin jadi penulis, lanjutkan cita-citamu itu. Mama akan selalu mendukung jalan yang akan kamu pilih.”
“hah, tapi bukannya mama pingin teteh jadi dokter?”
“Keinginan itu tetap ada. Sebenarnya teh, mama tau kamu BISA jadi penulis yang hebat. Hanya saja, hanya jadi seorang penulis gak akan bisa mengubah hidupmu jadi lebih baik. Susah kalau pingin ngehidupin hidup hanya dari upah penulis. Makanya mama pingin kamu jadi dokter.”
Kemudian ia melanjutkan,
“Kamu pintar, teliti. Kamu tertarik dengan alam sekitarmu. Kamu baik, selalu ingin membantu orang yang sedang kesusahan di sekitarmu walau pada umur sekarang kamu masih tidak bisa apa-apa. Tapi itu sekarang. Nanti, beberapa tahun kemudian, kamu akan berkembang. Makanya, dengan menjadi dokter, kamu bisa membantu orang-orang sekitarmu dengan segala ketertarikan, kepintaran dan kebaikanmu.”
Hatiku bergetar,
Jiwaku terguncang.
Tak pernah kusangka ia akan berkata seperti itu.
Oh ma,
Maafkanlah anakmu ini.
Maafkanlah aku, yang selalu berprasangka buruk terhadap apa yang kau lakukan bagiku, padahal itu sebenarnya berpengaruh baik terhadap diriku.
Maafkanlah aku, yang selalu mengejek kata-katamu, menghina ide-ide brilianmu, dan membantah semua nasihatmu, padahal sebenarnya itu baik terhadap masa depanku.
Maafkanlah aku, yang selalu menolak hasil kerjaan yang telah kau bikin melawan siang dan malam, padahal semua hasil jerih payahmu itu untuk diriku.
Maafkanlah anakmu ini ma.
Yang tak pernah mengerti dirimu padahal kamu selalu mencoba untuk mengerti diriku, memahamiku.
Es tut mir leid Mutter. Ich liebe dich







