Have an account?

Selasa, 01 Desember 2009

Es tut mir leid, Mutter :)

Hehh (menghembuskan nafas)
Hari ini seperti biasa,
Sekolah, belajar
Pulang, belajar.
Kehidupan yang monoton.

Tadi, ia menyuruhku untuk belajar.
Astaga! Apakah ia tak melihat seberapa kerasnya aku berusaha untuk menyenangkan hatinya?
Tak lihatkah ia aku mengerjakan tugas, mencari bahan-bahannya siang dan malam hanya untuk membuka hatinya, menyentuhnya dan membahagiakannya?

Maafkanlah jika hasilnya tak sebagus yang ia kira,
Tapi setidaknya sudah ku kerahkan semua kemampuanku,
Semua keluh, peluh dan rasa capek ini kupersembahkan semua hanya untuknya

Sudah berulang kali kuberitahukan yang sebenarnya,
Berulang kali ku berjanji untuk selalu menjadi yang terbaik
Tapi ia tak pernah memberi kesempatan,
Bukankah semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?

Lalu, kemudian, ia berulang kali memintaku menjadi seorang dokter,
Bukan, bukan meminta,
Tapi MEMAKSA.

Bukannya aku tak ingin menjadi seorang dokter, yang dengan mulianya membantu menyembuhkan orang-orang yang sedang dilanda penyakit, tidak, aku ingin sekali.
Hanya saja, aku mempunyai cita-cita lain,
Aku ingin suatu hari nanti, aku bisa menjadi seorang penulis buku terkenal.

Kucoba beritahu cita-cita itu,
Bukannya mendukung, ia malah mencercaku dengan omelannya
Memarahiku, seakan-akan menjadi seorang penulis adalah perbuatan yang tabu!

Sungguh,
Rasa kesal di hati ini sudah tak bisa dibendung
Monster ini selalu mencoba untuk keluar, memuntahkan segalanya
Sudah kucoba untuk mengekangnya, memendamnya dalam hati
Tapi tak bisa dielakkkan, rasa sakit dan kesal ini semakin menjadi-jadi.

Itulah apa yang kurasakan tentangmu, ma.
Kesedihan,kekecewaan, kekesalan ini,
Maafkan aku ma,
Itu semua untukmu.

Tapi itu dulu.
Tapi itu semua berubah, setelah apa yang barusan terjadi.

Hari ini, pulang seperti biasa.
Aku disuruh untuk belajar seperti biasa, tapi aku malas.
Jadi aku ijin saja untuk bermain internet sebentar saja. Ia mengijinkan.
Kemudian kulihatlah ketikkan itu, tulisan yang kubuat tentang teman-temanku.
Iseng saja kuperlihatkan kepadanya, walau ku tahu ia pasti hanya membacanya sekilas,
Lalu menghinanya, seperti biasa,

Tapi tadi tidak.
Kulihat ia membacanya dengan seksama.
Tubuhnya bergetar, matanya berkaca-kaca.
Matanya menelusuri setiap kata demi kata, seolah-olah tak ingin terlewatkan satupun.

Kemudian ia berkata dengan suara yang bergetar,
“Ini indah sekali, teh”

Terpana aku mendengarnya,
Terkejut,
Tak pernah kusangka ia akan berkata seperti itu.
Jadi aku hanya bisa diam, menatap kedalam matanya, mencari-mencari kebenaran di matanya.

Dan iya,
Selangsa kebenaran itu ada.

Kemudian ia melanjutkan,
“Kamu berbakat teh. Sungguh. Mama tak pernah menyangkanya. Mama bangga sekali padamu”.
Kemudian ia tersenyum. Senyum yang sangat tulus.

Terdiam aku menatap dirinya.
Sungguh. Jutaan pertanyaan berkelebat di benakku.
Apakah itu hanya sekedar pujian basa basi?
Apakah itu hanya omongan yang memang seharusnya diucapkan oleh seorang ibu?
Apakah?
Apakah?
Apakah?

Atau,
Dirinya memang mengatakan yang sebenarnya?
Dirinya memang bangga terhadap hasil karyaku,
Terhadap diriku?

Kemudian ia melanjutkan,
“Hahaha. Kamu pasti kaget teh. Mama juga kaget kamu bisa bikin kayak gini. Mama rasa, kalau kamu memang pingin jadi penulis, lanjutkan cita-citamu itu. Mama akan selalu mendukung jalan yang akan kamu pilih.”

“hah, tapi bukannya mama pingin teteh jadi dokter?”

“Keinginan itu tetap ada. Sebenarnya teh, mama tau kamu BISA jadi penulis yang hebat. Hanya saja, hanya jadi seorang penulis gak akan bisa mengubah hidupmu jadi lebih baik. Susah kalau pingin ngehidupin hidup hanya dari upah penulis. Makanya mama pingin kamu jadi dokter.”

Kemudian ia melanjutkan,
“Kamu pintar, teliti. Kamu tertarik dengan alam sekitarmu. Kamu baik, selalu ingin membantu orang yang sedang kesusahan di sekitarmu walau pada umur sekarang kamu masih tidak bisa apa-apa. Tapi itu sekarang. Nanti, beberapa tahun kemudian, kamu akan berkembang. Makanya, dengan menjadi dokter, kamu bisa membantu orang-orang sekitarmu dengan segala ketertarikan, kepintaran dan kebaikanmu.”

Hatiku bergetar,
Jiwaku terguncang.
Tak pernah kusangka ia akan berkata seperti itu.

Oh ma,
Maafkanlah anakmu ini.
Maafkanlah aku, yang selalu berprasangka buruk terhadap apa yang kau lakukan bagiku, padahal itu sebenarnya berpengaruh baik terhadap diriku.
Maafkanlah aku, yang selalu mengejek kata-katamu, menghina ide-ide brilianmu, dan membantah semua nasihatmu, padahal sebenarnya itu baik terhadap masa depanku.
Maafkanlah aku, yang selalu menolak hasil kerjaan yang telah kau bikin melawan siang dan malam, padahal semua hasil jerih payahmu itu untuk diriku.

Maafkanlah anakmu ini ma.
Yang tak pernah mengerti dirimu padahal kamu selalu mencoba untuk mengerti diriku, memahamiku.


Es tut mir leid Mutter. Ich liebe dich

0 komentar:

Posting Komentar